Sugeng Supriyadi, pria berusia 39 tahun, bersiap menapaki babak baru dalam hidupnya dengan bekerja di Korea Selatan. Keberangkatannya dijadwalkan pada 2 Februari 2026 melalui program GToG, sebuah program penempatan kerja yang memberikan kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk berkarier di luar negeri secara resmi dan terstruktur. Keputusan ini bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang, persiapan matang, serta tekad kuat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Sebelum dinyatakan siap berangkat, Sugeng menjalani pelatihan bahasa Korea di LPK Ansan. Di lembaga pelatihan tersebut, ia tidak hanya mempelajari kemampuan bahasa secara intensif, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai budaya, etika kerja, serta kebiasaan masyarakat Korea Selatan. Pembelajaran bahasa menjadi kunci utama, mengingat komunikasi yang baik akan sangat menentukan kelancaran pekerjaan dan proses adaptasi di negara tujuan.
Perjalanan belajar Sugeng tentu tidak mudah. Di usia yang tidak lagi muda untuk memulai tantangan baru, ia tetap menunjukkan semangat luar biasa. Setiap hari ia meluangkan waktu untuk menghafal kosakata, memahami tata bahasa, serta melatih kemampuan mendengar dan berbicara. Disiplin dan konsistensi menjadi modal penting hingga akhirnya ia dinyatakan lulus dan memenuhi persyaratan untuk mengikuti program GToG.

Keberangkatan ke Korea Selatan bukan hanya tentang bekerja di negeri orang, tetapi juga tentang keberanian keluar dari zona nyaman. Sugeng menyadari bahwa bekerja di luar negeri berarti harus siap menghadapi perbedaan budaya, cuaca, hingga pola kerja yang mungkin jauh berbeda dengan di Indonesia. Namun, ia melihat peluang ini sebagai kesempatan emas untuk memperbaiki taraf hidup serta memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Program GToG sendiri memberikan jaminan prosedur yang jelas dan legal, sehingga para peserta tidak perlu khawatir mengenai status kerja maupun perlindungan tenaga kerja. Dengan sistem yang tertata, Sugeng merasa lebih tenang dan percaya diri menghadapi keberangkatan. Ia juga telah mempersiapkan berbagai dokumen penting serta mengikuti pembekalan akhir sebelum terbang.
Tanggal 2 Februari 2026 menjadi momen bersejarah bagi Sugeng dan keluarganya. Dukungan dari keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Meski ada rasa haru dan berat meninggalkan kampung halaman, semangat untuk meraih kesuksesan di negeri orang lebih besar daripada rasa takut. Ia bertekad bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga nama baik bangsa, serta memanfaatkan pengalaman ini sebagai langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Keberangkatan Sugeng Supriyadi mencerminkan semangat pantang menyerah dan keberanian untuk bermimpi besar. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar hal baru dan meraih kesempatan. Dengan bekal pelatihan, tekad, dan doa keluarga, ia melangkah menuju Korea Selatan dengan harapan dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih cerah menantinya di sana.




